Posted by: bilqisafifaha on: January 12, 2012
Kemarin adalah hari di mana Tyas Andarini melepas masa mahasiswanya menjadi Sarjana Teknik sekaligus hari ACC lanjut kolokium gw atau tidak. Deg-degan ngeliat Tyas keluar ruangan sidang dan berakhir dengan predikat lulus bikin gw merinding dan bertanya2 kapan hal itu terjadi pada gw. Gw belum latihan sama sekali buat presentasi hari itu. Diputuskan lah gw presentasi paling terakhir karena dua teman gw yg lain sepertinya jauh lebih siap. Maka ketika saatnya gw presentasi, semua pikiran dan hati berkecamuk. Coba ya dibayangin, ketika otak lw berpikir keras menyampaikan isi slide, otak pun dipaksa untuk mengingat2 teori dasar dan mengimprovisasi bagian analisis yang tidak sesuai dengan apa yang seharusnya. Dicampur dengan kegelisahan hati bahwa presentasi akan ditolak, prasangka buruk akan terjadi pelecehan pada presentasi gw, bahkan kepasrahan untuk mengulang semua-semuanya dan menelan bulat-bulat cemoohan papa.
Well, ternyata presentasi gw berakhir paling cepat, 30 menit, di mana yang lain hampir 1 jam. Entah itu kabar baik, atau buruk. Namun setelah gw menutup presentasi dengan “terima kasih”, komentar papa hanya menuruh gw mengganti alur kerja supaya tidak terjadi kesalahpahaman antara saya dan penguji. Ah, baiklah. Gw pun yang tidak percaya hanya itu komentarnya, maka bertanya lagi, “Ada lagi, pak?”. Beliau justru memberikan gw kemungkinan pertanyaan sidang dan mengajari gw beberapa teori dasar. Tapi hati gw yang berkecamuk ini seperti masih belum kembali normal. Maka gw pun hanya ngangguk-ngangguk, bersikeras mengembalikan nyawa gw yang melayang-layang, dan menyadarkan diri gw bahwa the war is coming.
Maka seketika penjadwalan kolokium untuk kami bertiga pun dirancang. Beliau yang sangat sibuk dengan segala rapat, proyek maupun jadwal perwalian memutuskan tanggal 17 Januari 2012 untuk kolokium jam 15.00 di rumah A. Seandainya ada kamera yang menyorot muka gw dari awal presentasi sampai akhirnya mendengar kalimat putusan tersebut, pastilah rekaman muka gw seperti anak pongo (baca: polos dongo). Entah mengapa, gw gak merasakan euforia kebahagiaan ketika mendengar jadwal tsb. Yang gw rasakan saat itu hanya, “loh emang udah harusnya gw kolo”. Tapi orang-orang sekitar gw menerjemahkannya dengan arti lain. Mungkin antara pasrah karena sudah selama ini gw mencoba berusaha keras menyelesaikan semuanya dan mulai merasa bukan lagi sesuatu yang bikin gw penasaran. Apa, ya? Perasaannya tuh gak bisa digambarkan dengan kata-kata deh. Bukannya tidak mensyukuri, tapi gw merasa memang gw berhak untuk kolo setelah sekian lama ini, dan ketika gw mendapatkannya, gw rasa “yah begitulah seharusnya”.
Sidang pun akan dilaksanakan setelah tanggal 24 Januari 2012. Masih belum tahu kapan pastinya. Tapi kalau masalah sidang ini, gw yakin seratus persen bahwa gw akan menjadi zombie ala drakula perpaduan kuntilanak. Ini bakal jadi momen meneganggangkan. Oke, lebay sih. Dan apakah yang gw rasakan ketika gw nantinya lulus? Bakalan sama ketika gw tau akan kolokium kah? Menangis terharu biru kah? Atau justru lempeng datar tidak peduli?
Yang penting, sekarang berusaha sebaik mungkin. Berdoa. Kemudian pasrah. Yah, mungkin ekspresi gw kemarin adalah bentuk kepasrahan gw untuk semua ini..
Posted by: bilqisafifaha on: January 7, 2012
Penyesalan akibat lulus yang tidak sesuai target sudah mulai meredup belakangan ini. Gw mencoba buat melihat dari sisi lain ketimbang meratapi gw yg belum juga lulus ini. Banyak juga yang telah lulus, tapi gak tau mau apa. Perihal semacam itu, menjadikan gw memerhatikan beberapa teman2 gw. Dari yang ongkang-ongkang kaki menikmati masa2 transisi, bolak/i tes-interview sana sini, sampai yang jungkir balik mempersiapkan keperluan S2 di luar negeri. Setidaknya tiga kegiatan inilah yang dilakukan beberapa yang telah lulus. Dan, pada akhirnya, gw pun menyadari bahwa ketika waktu itu gw lulus, maka yg mana yg gw pilih? Mumpung gw belum lulus, maka gw harus sudah bisa menentukan pilihan.
Mungkin waktu itu gw akan dengan mudahnya berkata, “GW MAU KERJA”. Tapi, gak segampang itu cari kerja. Gw yang notebenenya belum lulus ini juga ikut berpartisipasi menuh-menuhin daftar list peserta tes sana-sini. Dan hasilnya nihil, padahal udah macem ninja menclok sana/i dan bak pejabat tinggi penuh jadwal. Tapi gw masih saaannss. Karena gw belum lulus, jadi paling gak guilty pressurenya gak seberat yg udah pada lulus dan belum dapet kerja. Dan gw berpikir lagi sekarang. Oh, kebayang ya kalo gw udah lulus dan gw gak punya pengalaman sama sekali untuk ikut tes, bakal macam apa? Padahal meskipun gw belum lulus, mengikuti tes kerja juga bukan main-main gw jabanin, bukan sekedar iseng. Penuh dengan keniatan dan usaha keras. Tapi belum berjodoh mungkin ya.
Dan pilihan mau S2 adalah pilihan yang menggiurkan juga. Karena gw merasa bahwa ilmu gw itu macem ilmu kolam renang anak TK atau kolam koi depan rumah gw. Dan gw rasa kuliah di ITB lagi maupun ke luar negeri sama saja, selama itu beasiswa. Tapi, gak seperti itu faktanya menurut penglihatan gw terhadap temen2 gw yang hararektik mau S2. Ada dua tipe yang gw perhatikan. Yang pertama, ada yang sangat teramat fokus. Dari yang belajar TOEFL/IELTS/GRE/GMAT disertai les dan tesnya, natep laptop dari pagi hingga malam untuk membuat CV/Motivation Letter dkk, translate keperluan ini itu, apply beasiswa dan universitas, dan kehektikan lainnya. Positifnya, emng sangat fokus, negatifnya stres gak ada kerjaan lain dan tidak berpenghasilan plus gak ada yang meng-QC apa yang udah dibuat. Dan tipe yang kedua, sibuk proyekan dengan dosen demi ngejar surat rekomendasi dari dosen tsb, sambil sembari nyambi persiapan ini itu. Well, bisa dilihat segi positif dan negatifnya kan kalau begitu? Dan hal ini yang baru gw perhatikan sebelum gw lulus. Gw bisa belajar dari mereka yang udah menentukan pilihan.
Gw tidak bermaksud untuk menarik kesimpulan dari tulisan ini. Karena pada dasarnya, gw masih meraba-raba mana kemungkinan yang bisa gw peroleh. Tentang pilihan di atas, agaknya memang harus kembali pada kemampuan dan kesempatan yang dimiliki. Perkara yang mudah untuk memilih, yang sulit adalah menjalaninya. Hmm, tak apa, itulah yang namanya kisah hidup. Maka, gw akan menimbang2 pilihan2 yang ada. Dan ketika gw telah memilih, maka itulah yg harus gw jalani. Sip?
Posted by: bilqisafifaha on: January 6, 2012
Hal yang paling membuat dilematis adalah ketika menyadari betapa dangkalnya TA kita. Yak, itu yang ada dalam benak gw. Setelah dipikir2 kok ya TA gw gak oke bgt sih. Udah “cetek”, hasilnya cem kieu pula. Uhuhuhu.. Mulai jiper minder berlebihan. Maluu. Mau dibilang apa nih sama yang nguji? Haaahh?
Tapi gak punya waktu lagi buat ngebenahin semuanya. Uuullalala.. ini merupakan tingkat keparanoidan seseorang yang mengerjakan TA dengan rasa keyakinan di bawah rata-rata. Maaakk~~
Pas lagi bikin draft, tersentak lah sadar gw bahwa. Oh mai gat, analisisnya kok cuma dua halaman?! Glek!!
Posted by: bilqisafifaha on: December 19, 2011
source: http://demiapa.com
Posted by: bilqisafifaha on: December 17, 2011
Dua minggu penuh dengan kehektikan itu rasanya apa banget. Seharusnya gw senang akhirnya si papa bisa ditemui dengan mudah belakangan ini. Namun, yang agak disayangkan adalah mengapa baru sekarang dia hadir. Ketika gw juga dihadapkan untuk mempersiapkan Presentation Group Discussion (PGD) kurang dari seminggu juga. STRESS. Dan pekerjaaan si dua huruf ini harus ditambah lagi dengan harus presentasi (lagi) dua hari sebelum PGD. Pecah sudah konsentrasi gw.
Ada kalanya saat di mana gw merasa ingin hektik, karena menyadari tidak ada yang gw lakukan. Namun ketika kehektikan datang, rasanya ingin berhenti dan leha-leha. Dasar manusia.
Dan si brewok pun tak ada, menyebabkan gw galau berkepanjangan. Lengkap. Sedih campur stress.
Bang Brewok, sebut saja, selalu ada ketika gw butuh. Apapun beliau lakukan demi membantu gw keluar dari berbagai keadaan yang stuck (gw panggil beliau karena menghormati umur, oh si papa juga harusnya gw panggil beliau, ya). Apapun beliau lakukan demi menjaga gw yang teledornya minta ampun. Kali ini, karena beliau memang harus tidak lagi di Bandung, maka hal semacam itu tak bisa beliau lakukan. Dan telepon adalah satu-satunya alat komunikasi kami. Malam tadi kami diskusikan banyak hal. Dan gw pun mendapat kuliah malam menjelang subuh berkaitan dengan harus beryukurnya kita dengan keadaan yang kita hadapi. Beliau sampaikan bahwa banyak orang yang ingin hektik seperti gw, tapi terbentur dengan tidak adanya hal yang harus dihektikan. Btw, kenapa gw jadi baku banget?
Yah, intinya. Gw tidak boleh berhenti dalam perjalanan ini dan menjalaninya harus dengan senyum. Mengeluh bukanlah hal yang tepat untuk menyelesaikan semuanya. Bersyukur saja dengan semua yang ada, karena gw termasuk orang yang beruntung. Semua yang terjadi pasti ada hikmahnya meski gw gak tau apa itu. Dan tentunya, kami berusaha untuk menjalani ini semua berdua, berusaha mewujudkan harapan yang dibangun sedikit-sedikit.
Thank you Bang Brewok, for a good lecture and being so patient
Recent Comments