Posted by: bilqisafifaha on: January 7, 2012
Penyesalan akibat lulus yang tidak sesuai target sudah mulai meredup belakangan ini. Gw mencoba buat melihat dari sisi lain ketimbang meratapi gw yg belum juga lulus ini. Banyak juga yang telah lulus, tapi gak tau mau apa. Perihal semacam itu, menjadikan gw memerhatikan beberapa teman2 gw. Dari yang ongkang-ongkang kaki menikmati masa2 transisi, bolak/i tes-interview sana sini, sampai yang jungkir balik mempersiapkan keperluan S2 di luar negeri. Setidaknya tiga kegiatan inilah yang dilakukan beberapa yang telah lulus. Dan, pada akhirnya, gw pun menyadari bahwa ketika waktu itu gw lulus, maka yg mana yg gw pilih? Mumpung gw belum lulus, maka gw harus sudah bisa menentukan pilihan.
Mungkin waktu itu gw akan dengan mudahnya berkata, “GW MAU KERJA”. Tapi, gak segampang itu cari kerja. Gw yang notebenenya belum lulus ini juga ikut berpartisipasi menuh-menuhin daftar list peserta tes sana-sini. Dan hasilnya nihil, padahal udah macem ninja menclok sana/i dan bak pejabat tinggi penuh jadwal. Tapi gw masih saaannss. Karena gw belum lulus, jadi paling gak guilty pressurenya gak seberat yg udah pada lulus dan belum dapet kerja. Dan gw berpikir lagi sekarang. Oh, kebayang ya kalo gw udah lulus dan gw gak punya pengalaman sama sekali untuk ikut tes, bakal macam apa? Padahal meskipun gw belum lulus, mengikuti tes kerja juga bukan main-main gw jabanin, bukan sekedar iseng. Penuh dengan keniatan dan usaha keras. Tapi belum berjodoh mungkin ya.
Dan pilihan mau S2 adalah pilihan yang menggiurkan juga. Karena gw merasa bahwa ilmu gw itu macem ilmu kolam renang anak TK atau kolam koi depan rumah gw. Dan gw rasa kuliah di ITB lagi maupun ke luar negeri sama saja, selama itu beasiswa. Tapi, gak seperti itu faktanya menurut penglihatan gw terhadap temen2 gw yang hararektik mau S2. Ada dua tipe yang gw perhatikan. Yang pertama, ada yang sangat teramat fokus. Dari yang belajar TOEFL/IELTS/GRE/GMAT disertai les dan tesnya, natep laptop dari pagi hingga malam untuk membuat CV/Motivation Letter dkk, translate keperluan ini itu, apply beasiswa dan universitas, dan kehektikan lainnya. Positifnya, emng sangat fokus, negatifnya stres gak ada kerjaan lain dan tidak berpenghasilan plus gak ada yang meng-QC apa yang udah dibuat. Dan tipe yang kedua, sibuk proyekan dengan dosen demi ngejar surat rekomendasi dari dosen tsb, sambil sembari nyambi persiapan ini itu. Well, bisa dilihat segi positif dan negatifnya kan kalau begitu? Dan hal ini yang baru gw perhatikan sebelum gw lulus. Gw bisa belajar dari mereka yang udah menentukan pilihan.
Gw tidak bermaksud untuk menarik kesimpulan dari tulisan ini. Karena pada dasarnya, gw masih meraba-raba mana kemungkinan yang bisa gw peroleh. Tentang pilihan di atas, agaknya memang harus kembali pada kemampuan dan kesempatan yang dimiliki. Perkara yang mudah untuk memilih, yang sulit adalah menjalaninya. Hmm, tak apa, itulah yang namanya kisah hidup. Maka, gw akan menimbang2 pilihan2 yang ada. Dan ketika gw telah memilih, maka itulah yg harus gw jalani. Sip?
Recent Comments