about stupidities, adventures, friendship, ups/downs, realities, and fiction

Drama Sekali

Posted by: bilqisafifaha on: February 15, 2012

Hari ini gue uring-uringan di kampus. Awalnya janjian sama niya dan lita buat nanyain jadwal sidang, tapi berakhir dengan gw sendirian di prodi. Setelah tanya-tanya persyaratan daftar sidang dan ngetag tanggal sidang, maka gw melangkah ke kantin bengkok-kantin kesukaan anak TG. Belilah ayam pop dan susu milo, menyantap makanan sendirian, dan tak menghabiskan nasinya karena merasa sudah kenyang. Setelah itu gue beranjak ke GKU Timur buat ambil duit ke ATM BNI dan menghiraukan keramaian yang terjadi di sana demi melangkah pulang. Sesampainya di Arsi, gue berpikir untuk kembali ke prodi, berharap temen gue yang dewa processing ada di sana dan bersedia mengajari gue. Pas sampe di GKU Timur lagi, gue bingung kok ada pendaftaran-pendaftaran gitu. Gue pikir pendaftaran masuk ITB. Tapi kok ada makanan sama orang-orang berjas putih alias dokter. Mikir gue ini apa, ya? Ternyata ada donor darah PMI yang diselenggarakan IOM.

Gue adalah orang yang belum pernah melakukan donor darah seumur hidup. Saat itu dipikiran gue cuma, “Pengen ah, nyumbang. Gol darah gue kan O. Berarti bisa dikasih ke gol apapun. Bangga punya gol darah O”. Lagipula kasus nyokap gue yang tadinya mau operasi angkat kista lebaran tahun lalu dibatalkan gara-gara gak ada golongan darah O buat nyokap dari PMI. Stoknya habis. Gue yang saat itu sedang berhalangan-alias haid, tidak diperbolehkan. Sementara adik gw yang pernah ada sejarah hepatitis juga gak dianjurkan mendonor. Usianya juga waktu itu belum 17 tahun. Karena pendonor minimal harus berusia 17 thn dan berat badannya minimal 47 kg. Berat gue… hmm… di atas itu sih.. Anyway, tidak usah dibahas masalah berat badan. Lanjut, sementara bokap gol darahnya A. Ya sudah, sejak itu gue bertekad untuk memberi darah gue sekantong kapanpun ada donor darah. Pas banget siang tadi ada acara donor darah ini. Tanpa pikir panjang, gue daftar.

Pengisian formulir berkisar masalah nama, alamat, sejarah penyakit, pernah keluar negeri dalam enam bulan terakhir atau tidak, menggunakan obat-obat atau tidak, dll yang hanya tinggal checklist ya/tidak/tidak tahu. Selanjutnya setelah daftar, diperiksa tekanan darah, ditanya jam berapa tidur, dan sudah sarapan belum.

Dokter: “Dicek dulu ya tekanan darahnya”

Gue: “Iya, dok”

D: “Kemarin tidur jam berapa?”

G: “Jam 11 dok, habis itu bangun subuh, terus tidur lagi, terus bangun2 jam 9″ (bohong, gue tidur jam 12, setelah gue ingat-ingat)

D: —mukanya mulai menunjukkan larangan gw mendonor, tapi masih mompa tensi—- “Hmm, bagus tekanannya 120/80. Yak, dicek dulu Hb nya. Gak sedang M kan?”
Suasana Donor DarahGue menggeleng. Asiik, gue senang lolos tahap pertama (bagaikan lolos tes kerja). Kemudian, sebelum gue cek Hb, gue juga sebenernya takut kalo-kalo ternyata gue dapet gimana? Jadilah gue permisi dulu ngecek sambil buang air kecil sekalian. Dan ternyata gak kok. Oke, lanjut kalo begituu. Setelah ditusuk jarum kecil di jari buat meriksa golongan darah sama nilai Hb, dokternya bilang kalo Hb gue 14,5. Dan gue diperbolehkan mendonor. Terakhir gue medcheck, Hb gue rendah sekitar 10,9 yang biasanya minimal 11. Yah, nyyerempet dikit lah ya. Maka gue menunggu dipanggil.

Sambil menunggu, ada junior gue juga donor, Roni TG08. Terus kita berbincang sambil menunggu. Dia ternyata sudah sering donor darah di PMI Jl. Aceh. Gue manut-manut dan melihat dia tampaknya tak ada rasa cemas. Gue juga gak ada rasa cemas sih sebenernya, cuma gue merasa ngaantuuukk buanget nunggu antriannya. Dan gue mulai cemas ketika gue menyadari jarum suntiknya guedeee banget. Gue ngebayangin kalo kulit gue ntar bolong gimana? Segede isi pensil 0,7, tapi dikumpulin 3 biji. berapa deh tuh diameternya? Gue mulai resah dan Roni hanya bilang,”ya kan biar kesedot darahnya”. Kalimat yang tidak membantu gue untuk tenang. Ditambah lagi, ada salah satu pendonor yang setelah mendonor, kursi bagian kakinya ditinggiin dan dia direbahkan karena sepertinya pusing. Gue yang tidak ada riwayat darah tinggi/rendah, sepertinya tidak terlalu khawatir. Akhirnya setelah hampir setengah jam nunggu, nama gue dipanggil. Maka gue diberi kantong donor dan beranjak ke tempat pengambilan darah.

Gue mendonor

Jajaang.. tangan sebelah kiri gue dililit alat tensi dan disuruh mengepal. Gue gak mau liat jarum suntik segede 3 isi pensil 0,7 masuk ke tubuh gue. Tapi pas masuk sih gak begitu sakit ternyata. Lalu gue mulai menikmati aliran darah yang sepertinya hilang dari tubuh gue (ini efek terlalu menghayati). Dan angin sepoi-sepoi di GKU hampir sukses bikin gue terlelap. Lalu dokternya nyuruh gue membuka kepalan sambil sesekali mengepal supaya darahnya cepat keluar. 10 menit berlalu, Roni sudah beres mendonor. Sementara gue masih anteng duduk menikamti angin sambil merasa lama-lama pegel nih tangan dan jarum suntiknya berasa. Gue pun berkhayal bagaimana jika jarumnya patah ditengah penyedoton darah gue? Atau bagaimana jarumnya masuk terlalu dalam? Haaa~ mengerikan. Lalu gue membuang jauh-jauh sambil berpikir masalah TA, tapi bukan ide bagus. Orang sebelah gue pun sudah selesai. Oh mai gat. Panik. Kok gue gak selese-selese udah 15 menit? Kata dokternya pembuluh darah gue kecil, jadi lama, maka usaha gue mengepal dan membuka mulai gue pacu. Ayo keluar darah-darahku. Setelah akhirnya kantong sekitar 450ml terisi penuh, maka dokter menggunting salurannya dan meninggalkan jarum suntik dan sedikit sisa saluran. Setelah itu dia mengambil lagi darah gue ke dalam dua botol tabung reaksi sebanyak masing-masing setengah atau seperempat botol. Katanya untuk pemeriksaaan laboratorium. Dan jarumpun ditarik keluar dan seeprti biasa kapas beralkohol tertempel setelahnya dan dokter menyuruh gue mengangkat tangan gue ke atas sambil menekan kapas tsb. Dokternya bertanya apakah gue pusing? Gue dengan percaya diri bilang gak. Dan dokter mengucapkan terima kasih. Dan gue menjawab terima kasih kembali.

Kumpulan Kantong DarahBerdirilah gue, pakai sepatu, dan mulai berjalan. Tapi yang terjadi adalah gue mual dan tiba-tiba ingin memuntahkan isi perut gue. Gue menuju tempat pengambilan kartu PMI dan makanan. Gue langsung minta teh hangat yang tersedia dan dihujani makanan bak sembako serta kartu PMI gue. Gue terduduk di lantai sambil mengumpulkan tenaga gue. Tiba-tiba tangan gue dingin, muka gue lebih dingin lagi, dan perut gue mual. Gak pusing ini. Tapi itu yang gue rasakan setelah melangkah beberapa senti dari tempat tidur. Gue paksakan menghabiskan teh manis hangat itu, berharap tenaga gue kembali pulih. Tapi ternyata tidak juga. Maka gue mulai panik dan mata gue berasa berat seketika. Maka gue menuju mushola GKU Timur, tapi ternyata penuh sama yang lagi solat zuhur. Maka gue keluar lagi, dan mencoba duduk di lantai lagi, tapi angin di GKU Timur dahsyat sekali, bikin gue menggigil dan pengen buang air besar (gimana ceritanya gue juga ga tau). Jadilah gue ke WC dan langsung nongkrong sambil lemes-lemes berdoa jangan sampe gue pingsan di WC. Bisa malu gue, headline Tribun Jabar nanti malah “Seorang Mahasiswi Semester 10 ITB Ditemukan Pingsan di WC dengan Sembako Donor Darah“. Kepanjangan emang judulnya, tapi yang ada  orang bukan kasian ama gue, malah ngatain gue norak! Maka gue yang udah digedor dua kali, berjuang untuk keluar WC dengan isi perut yang sudah keluar sukses. Pas ngaca, muka gue putih pucat pasi. Dingin sedingin-dinginnya dan lemas selemas-lemasnya. Keluar WC, gue langsung duduk lagi di lantai sambil mengatur nafas gue. Gue butuh orang ngangkut gue dari sini. Tapi siapa? Gue pun ditelepon eja gak lama kemudian. Dia yang syok karena gue tiba2 bilang lagi donor darah dan tahu gue mau pingsan langsung nyuruh gue tungguin temen gue dateng buat jemput. Ah, merepotkan. Gue berdebat lama hanya untuk meyakinkan kalau gue cuma butuh duduk sebentar mengembalikan tenaga. Akhirnya telepon ditutup dan gue mulai kembali berkonsentrasi mengembalikan nyawa gue yang separuh ngawang-ngawang. Datang lah Mabal, Amek, dan Arie yang mau ngambil duit di ATM. Mereka ngajak gue makan siang, tapi gue tolak karena gue bilang gue lemes dan gak kuat jalan ke Bengkok. Dan ternyata mereka malah melenggang asik meninggalkan gue. Padahal itu gue sudah berkeringat dingin ngucur seluruh tubuh. Dan gue tergeletak sendirian lagi. Awas, ya, kalian!! Grrraok!

Eja menelepon lagi dan lagi2 marah kenapa gue gak minta mereka nganter gue balik. Ya, mau gimana, gue sebenernya gak enak lah minta dianter pulang. Emang dasar merekanya aja yang gak peka dan gak gentle buat nganter gue pulang. Akhirnya gue membuka sembako dan menelan kue bolu untuk mengisi perut. Setelah dirasa cukup kuat, maka gue beranjak pulang. Belum jauh dari GKU, tiba-tiba Icut menelepon dan nyuruh gue menunggu di GKU. Gue pun kembali ke GKU mengunggu icut. Yang datang adalah Mita. Ternyata Icut di kosan mengutus Mita dari PAU untuk menemani gue pulang ke kosan. Pikir gue, ini pasti kerjaannya si Eja. Akhirnya setelah meyakinkan Mita kalau gue sudah normal kembali, Mita pun melepas gue pulang sendirian.

Gue berjalan pelan sekali. Hidung gue mulai dingin dan kepala gue kali ini benar-benar pusing. Gue pun mencoba bertahan sampai ke Borromeus untuk beli roti. Kemudian membeli makan siang titipan bhella ke warung depan kosan. Yang intinya memakan waktu lama dan hampir bikin gue harus mendarat di tanah. Tapi alhamdulillah gue sampai juga di kosan. Icut pun langsung meniapkan Sangobion dan madu dan air putih, sementara Bhella diketahui tidak sadarkan HP karena lagi experimen dandan di kamar Uput. Dan gue tertidur sampai jam 4 sore. Bangun-bangun gue mulai merasa enakan. Muka gue gak sepucet tadi, dan badan gue banjir keringat pertanda sudah sehat.

Begitulah kisah gue. Jadi, buat yang mau mendonor darah untuk pertama kali. Disarankan untuk tidur cukup sebelumnya dan makan satu jam sebelum mendonor. Semoga bermanfaat dan lain kali gue berhasil mendonor tanpa drama setelahnya :)

5 Responses to "Drama Sekali"

pengalaman ya bil :) besok2 makannya jgn satu jam sblm deh,tp dua jam sblumnya skalian.hehe :*

Bilss, dosa banget yak gue:
1. Menitip makan
2. Tak sadarkan hp

In contrast, Amirinnisa angelic banget:
1. Mengutus Mita
2. Menyiapkan obat

wkwkwk.

Btw, ini part yang bikin gue ngakak:
Gue mulai resah dan Roni hanya bilang,”ya kan biar kesedot darahnya”.

sabar ya beebs. 450mL darah lo akan menolong orang lain, efeknya dahsyat kan ;;)

gmna skrg? udah sehat? btw td tyta tmpat aerobikny penuh T___T jd endingnya beli kuteks deh di pvj :p

iya maakk :D

sudahlah, tak usah bermanis-manis padaku. hahaha..sans

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

ini punyanya bilqis

Blog Stats

  • 2,976 hits

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.