Posted by: bilqisaa on: February 24, 2009
Lagi-lagi gw mengangkat masalah persahabatan. Gw berpikir cukup keras untuk menjawab pertanyaan mendasar dalamhidup gw. “Apa bedanya teman dan sahabat?”. Lalu nantinya dalam otak gw akan ada pertanyaan lanjutan, yaitu “Apa bedanya sahabat dan musuh?”. Selama ini gw mereka-reka, mungkinkah teman hanya sekedar relasi, tahu nama, asal, alamat, nomor telepon, dan selintas latar belakang? Dan mungkinkah sahabat adalah lebih dari itu? Dia ada saat suka dan duka, blaa bla bla. Dan itu mungkin jawaban paling standar sedunia.
Oke, tarolah itu jawabannya. Sekarang yang jadi masalah adalah perbedaan sikap kita antara dengan teman dan sahabat. Ya, [lagi-lagi] mungkin kalo sama temen, kita berkomunikasi hal-hal yang menurut kita penting, darurat, dan basa-basi. Selebihnya, masalah saling membantu hanya sekedar sarat pertemanan yang menjadi sifat dasar individu sosial. Sementara sikap kita ke sahabat gimana? Well, mutlak semua penghuni galaksi ini bakal bilang, “Ya, deket banget. Kami saling mengisi hidup satu sama lain. Berbagi kisah, pengertian, perhatian, dan nasihat. Intinya, give and take“.
Yak, dan kata itu muncul dalam benak gw! Give-and-take or take-and-give? Penting apa gak sih yang mana yang duluan? Apa itu merupakan sifat komutatif, yang kalo diputer-puter juga bermakna sama? Hmm..
Terus gimana kalo masalah tiba-tiba muncul dalam persahabatan lw yang adem ayem? Permisalan. Masalah yang mencuat ke permukaan adalah tentang give and take ini. Apakah dalam persahabatan hitung menghitung give sangat erat kaitannya dengan kelanjutan persahabatan? Gw emang belom melakukan survey sih dalam hal ini. Tapi kayaknya hati nurani sih bilang nggak. Nah, kalo kondisinya adalah lw menganggap lw udah terlalu banyak give, dan lw meminta take, sebenernya amat sangat wajar kan? Karena hakekatnya kan give and take [kecuali kalo give and give]. Meski menurut gw itu emang agak perhitungan sih, ibarat kata gak ikhlas banget gitu. Sekarang untuk membuktikan dia sahabat kita atau bukan gimana caranya? Kalo kita udah give banyak, dan menganggap orang yang kita give itu sahabat kita, tapi dianya gak melakukan dan berpikir hal yang sama ke kita gimana? Harus gak sih kita putusin aja persahabatan-bahkan pertemanan-sambil berharap dia sadar betapa banyak pengorbanan yg udah kita lakukan? Mending kalo orangnya sadar, nah kalo gak? Capek sendiri bukan?
Dan setelah gw pikir-pikir, sebanyak apapun give yang udah kita kasih gak bisa membayar apa yang dinamakan persahabatan. Mungkin ada makna lebih dari itu yang bisa mengartikan sebuah kata persahabatan. Give bukanlah dosa, dan bukanlah sesuatu yang terbatas. Ketika lw bisa memberi, lakukanlah. Masalah dia itu sahabat lw atau bukan itu dipikirin nanti. Berlandaskan dari kata hati dan firman Tuhan pun menyebutkan bahwa apapun yang lw dapatkan nantinya pasti merupakan balasan dari apa yang udah lw beri. Dan semoga aja dalam persahabatan, gak ada kata give and take, at least gak ada kalkulasi give and take. Dan semoga aja siapapun orang yang udah diberi, bisa juga untuk memberi, meski gak sevulgar itu juga seharusnya kita berharap. Dan semoga aja masalah apapun yang menghantui persahabatan, bukan menjadi tembok pemisah keduanya, justru kedekatan dan pengertianlah yang hadir di sana. Dan semoga aja dunia ini penuh dengan persahabatan yang sehat!!
Kalo gw salah dalam berkata-kata, coba tolong diralat..
Posted by: bilqisaa on: February 24, 2009
Harus gw awali dari mana, ya? Pokoknya, yang namanya kalo kita berlima [gw, bhela, icut, intan, tyas] udah jalan, gak selamet aja..
#1. Gw
Satu penyakit terhebat dalam hidup gw adalah ketika kami berniat untuk [entah itu belanja atau cuma liat2] menghabiskan waktu ke toko, dan gw menemukan barang bagus, namun apa daya tak mampu membelinya [entah karena gak ada duit atau emang gak cocok kalo gw yang pake], maka akan ada korban untuk gw setani. Permisalan, ketika hadiah icut yang pernah gw post juga di blog sebelum2nya, baju yang amat gw idamkan, ternyata tak muat di badan gw, dan gw gak rela baju itu dibeli orang lain, maka akhirnya gw beli untuk kado icut. Dan akhir-akhir ini korban kesyaithonan gw adalah selalu intan. Minggu lalu kami baru saja berniat menemani Bhella beli kemeja di BTC, namun gw menemukan baju murah meriah, bagus pula, dan sayangnya tak cocok di gw. Dengan segala ucap-ucap manis, gw berhasil membuat Intan beli baju itu. Kemudian hari ini ketika kami [lagi-lagi] berniat menemani Bhella belanja di Sultan Agung, Intan berhasil masuk jebakan buaya gw lagi ketika melihat ada baju di Flashy yang amat disayangkan jika tidak dibeli. Dan inilah penyakit gw, GAK RELA BARANG YANG GW SUKA DIBELI ORANG LAIN, AT LEAST KALO YG BELI TEMEN GW SENDIRI, MASIH BISA GW PINJEM. Hehehhe
#2. Bhella
Kalo penyakit anak ini pas lagi belanja adalah nafsu yang berkobar-kobar di awal perjalanan. Setelah mencari dengan segenap hati dan duit di dompet, YANG NANTINYA BELANJA BUKANLAH DIA, melainkan temen [termasuk gw] yang hanya berniat menemani anak lugu itu. Juga penyakit lain yang bisa kambuh ketika kami bersama adalah dia berjalan dengan gontai seakan semua mobil adalah magnet. Maksudnya adalah ketika kita jalan di pingir jalan[benar-benar di pinggir jalan], dia justru selalu berjalan mendekati mobil yg sedang lalu lalang, sehingga kami ber empat harus selalu memegangi dia ketika sedang berjalan. Bahkan kalo perlu jalan di trotoar yang berpagar. Kenapa ya itu kaki ama otak gak singkron bgt? Oia, selain itu, adapun besar kemungkinan anak itu tidak jadi membeli sepatu hanya karena ukuran yang tidak tersedia [kakinya kecil, jadi harus beli sepatu di adidas kids].
#3. Intan
Kalo Intan jangan ditanya. Penyakit yang paling sering kambuh adalah ketika dia menemani kami belanja, dia selalu mengawalinya dengan kalimat,” gw qana’ah. Gw gak akan beli apa-apa”. Terbukti sekali kalimat itu kosong. Karena ujung-ujungnya selalu dia yang paling banyak membawa kantong, paling banyak menggesek debit, dan paling banyak beristighfar setelahnya sambil berkata, “ini terakhir kali gw belanja”. Mamam tu qana’ah. Yang ckup membuat gw bisa berdecak kagum adalah setelah tiba di kosan, dia menyetel keras-keras Al-Qur’an digitalnya tanpa peduli tetangganya sudah terlelap. Dan cukup tau saja, setelah dia membeli baju atau sepatu atau apapun, malamnya dia menyuruh gw untuk memilih fashion apa yang akan dia kenakan esok hari dari ujung kepala sampai kaki dan ritual ini akan menghabiskan waktu satu jam-an karena dia harus mencobanya satu2. Dan berakhir dengan dia tidak memakai baju barunya karena berpikir akan dia simpan sampai moment yang tepat. Astaga!
#4. Tyas
Tyas..tyas.. Di saat 3 temannya hobi membeli barang gak guna. Dia terlalu qana’ah. Penyakitnya adalah tidak akan membeli apapun, tidak akan tergoda dengan barang apapun, dan tidak akan menjadi setan belanja. Anak ini paling teguh pendiriannya, kecuali udah kita setani berempat. Bahkan ketika bokapnya menawarkan dengan tulus sepatu crocs, tas2 kulit, baju2 cantik, dan all-stuffs-you-need-because-you-absolutely-have-to-update-your-style!! dia tidak tergetar hatinya untuk membeli. No wonder kalo menemukan Tyas berkeliaran di kampus dengan kaos lusuh, jilbab gak beres, sendal jepit, tas mengerikan, sambil bawa-bawa ember bertuliskan “TYAS DAN BHELLA KGU 28″. Ini anak paling labil di antara kita berempat.
#5. Icut
Nenek tua yang satu ini sangatlah mudah terpengaruh kami-kami yang laknat ini. Bayangkan saja, untuk membujuknya pergi ke mall, makan malam di luar, dan membeli barang, kami hanya butuh mengulang kaimat ajakan paling banyak 5 kali. Separah itu tergodanya dia. Dan dia selalu mengampuni dirinya sendiri meskipun dia sadar sudah melakukan kesalahan. Permisalan kronologisnya, kami melihat sendalya yang sudah tidak layak pakai. Kemudian kami lihat ada sendal yang bagus, lalu kami suruh dia beli, dia mau aja, setelah itu dia mengutuk dirinya sendiri, dan tak lama kemudian dia berkata,”gak papa lah ya, aku kan jarang2 belanja. hehheh”. Kami tak akan khawatir dengan usahanya untuk menghukum dirinya sendiri, karena pasti nantinya dia akan memaafkan dirinya sendiri juga. Paling-paling habis dia belanja, dia akan tekun di dapur kosan dan memasak menu andalannya, brokoli dan wortel, demi menyelamatkan hidupnya di akhir bulan.
Yah, begitulah singkatnya beberapa penyakit akut yang diderita oleh kami. Tapi jujur saja, dari hati yang paliing dalam, from the heart of our bottom [lho??], kami amat sangat menjunjung tinggi kesederhanaan..
Posted by: bilqisaa on: January 14, 2009
Eddan..
Gw jadi gadis elektrik gini. Tadi gw abis fisioterapi. Dan apa yang dilakukan sang terapis kepada gw?
#1 Gw diberi sinar micro-diathermy, biar darah lancar. Cukup panas. Panas sih. Dan makin panas.
#2 Gw ditempelin alat semacam stetoskop, empat biji. Di bahu, di punggung, di pergelangan tangan, ama di siku. Oh, mau tau apa yang terjadi? Gw dialirin listrik pake alat yang namanya TENS, entahlah. Udah kayak di-EMG (electromyograph) alias menguji aktivitas listrik dari otot, ngecek fungsi saraflah. Intinya, itu dikasih biar tangan gw gak lemes dan saraf motorik gw bekerja dengan baik kembali. Rasanya udah kayak kesemutan hebat. Tangan gw tremor seketika. Terus pundak gw kayak ditahan plus dipukul-pukul, tapi jari-jari gw yang bereaksi. Well well, tapi lama2 enak. Jadi nagih. Hehehe.
#3 Gw di-Ultrasound Therapy. Katanya sih regenerasi jaringan. Gw diolesin gel dingin, terus dipijet pake alat (entah apa itu). Asiik.
Hahaha, kalo gw pikir2, enak juga fisioterapi. Dan 9 pertemuan masih menunggu gw. Hohoho
Posted by: bilqisaa on: January 11, 2009
Sabtu ini bener-bener disaster. Entah mengapa itu yang namanya sial demen banget nempel ama gw. Coba, ya biar gw jabarkan satu per satu..
Asal muasal semuanya gara-gara gw mau ke Pak Bohon. Beliau adalah seorang ahli pertulangan yang notabenenya amat terkenal di kawasan Bandung, spesifiknya Geger Kalong. Gw mau ke itu bapak demi menyembuhkan kecacatan gw. Mengingat jarak tempuh yang amat tak terjangkau, maka Sendi dan Permadi yang sedari awal sudah gw take untuk mengantar gw, berinisiatif untuk meminjam mobil Ori. Dikerahkan semua bujuk rayu biar anak itu mau minjemin mobilnya. Saat itu usaha pembujuk rayuan dilakukan pukul setengah 12. Tapi baru ada kepastian jam 12.45. Intinya, Ori meridhokan mobilnya kita pinjam dengan syarat mendrop dia di warnet Cihampelas, buat maen RO (apapun itu) 20 jam. OK.Maka sudah beres masalah peminjaman mobil. Dan ketika gw tau itu, sekejap saja gw sms Ori biar dia jemput gw di pos satpam. Sementara Sendi akan dijemput di gerbang belakang ITB.
Berangkatlah gw 12.55 dan mulai menunggu. Sepuluh menit berlalu, tak ada penampakkan mobil Ori. Gw yang mulai kelaperan mulai bergerak beli roti dan kembali lagi ke pos satpam. Melahap beberapa cubitan kecil roti coklat gw membuat tenggorokan kering. Balik lagi gw ke itu warung buat beli minum, kemudian kembali lagi ke pos satpam. Tak terasa [beuh.. ampe mati rasa bahkan] udah 20 menit. Dan tukang ketoprak membuat perut gw semakin bergemuruh. Sampe akhirnya gw telepon Ori dan gak diangkat aja, malahan dialihkan ke mailbox. Mengautislah gw di pos satpam, menggerutu di dalam hati, dan sebagainya. Sampai akhirnya diketahui bahwa anak itu baru aja membaca sms dari gw. Dan bukan selayaknya orang yang sudah ditunggu2 langsung meluncur menjemput gw, melainkan dia lebih memilih buang hajat. Masih dalam kesabaran yang terkontrol, maka gw menunggu kembali dengan SETIA. Konklusinya, gw nunggu dia buang hajat 30 menitan??? Huh, ternyata gak sampai situ, ketika gw memohon demi apapun ke Ori biar cepetan, dia justru membalas dengan seenak dengkulnya kalo dia mau sholat dulu. Fine, untung dia masih inget Tuhan. Dan yang gak habis pikir, ini anak sholat di mesjid mana sehingga tak kunjung tiba?? Kenapa gak sekalian aja dia abis sholat nyapuin-ngepelin-nyalonin mobilnya yang bau itu???? Gw nunggu Ori 50 menit lebihhh!
Oke, satu masalah selesai. Sekarang menjemput Sendi. Bergeraklah kita ke gerbang belakang. Ditemukanlah Sendi dan masuk dia ke mobil Ori dengan tampang ingin memutilasi sang pemilik mobil. Dengan tampang cengengesan-ingusan-kayak-kesengsem-manisan, Ori masih aja banyak bacot alesan ini itu. Akhirnya kita jalan menuju Cihampelas, sekalian jemput Permadi di sekitar sana. Belom ada 1km beranjak dari gerbang belakang ITB, tiba-tiba ada yang nyeletuk, “Hape gw ilang”. Oke, gw udah terbiasa dengan kata-kata itu, karena pasti cuma keselip di tas, tapi untuk yang satu ini..
“Kayaknya hape gw kebuang ke tong sampah”
Teruntuk semua dewa dewi di surga maupun di neraka, tolong jebloskan manusia yang baru saja berkata itu ke inti bumi
Gak usah tanya siapa yang ngomong gitu, udah pasti manusia yang dengan mudah sering kehilangan hidungnya dan menemukan kembali hidungnya tergeletak ketinggalan di kosannya. Yak, Senditio Awari. Yang gak habis pikir adalah gimana caranya HP bisa kebuang bersama sampah yang dia lempar begitu saja ke tong sampah? Ini contoh seseorang yang memiliki otak, tangan, saraf motorik, dan saraf reflek tak bekerja secara sinergis. Imbisil. Astaga, banting setirlah Ori. Balik ke TKP dan setibanya di depan tong sampah, tak ada yang berinisiatif melakukan pencarian. Ori dengan cerdasnya memegangi tong sampah itu sambil berharap hp Sendi bergetar ketika ditelepon [plis deh], gw sambil meringis mengais2 sampah satu-satu dan menemukan sepatu Playboy, daun-daun bambu, nasi kuning, dan intinya tak menemukan hape di tong itu, sementara yang menghilangkan hp malah ribut pingin pipis. Dan pergilah kami ke prodi dan memikirkan nasib Permadi yang sudah barang tentu tak berbentuk lagi. Ketika gw mengabari Permadi, yang terlontar dari mulutnya yang begitu laknat adalah “Ya udahlah ya”. Nenek moyang lw! Seenaknya aja buang2 hp. Ini bukan masalah berapa harganya, tapi mana tanggungjawabnya? Huah. Sendipun ke himpunan dan mendapati hpnya tergeletak di sofa himpunan. Untung aja itu hp bukan yang N81. Astaga, mau gw patahin lagi rasanya tulang telunjuknya.
Entah udah berapa lama Permadi nunggu lumutan di Advent. Yang jelas mata dia berputar sedemikian rupa sehingga mengartikan,”gw udah berkerak!!”. Si Ori gak jadi ke warnet, dia jadinya ikut kita ke Gerlong soalnya mau liat laptop di seseorang. Hore, meluncur kita ke Gerlong. Oh, belom ternyata. Sendi dan Ori ternyata punya kejutan lain, yaitu ke BEC. Sendi mau liat harga SE buat adenya, dan Ori beli casing i-phone. Semakin lama saja perjalanan. Dan di BEC semacet itu. Karena ingin segera beres, maka gw menyuruh mereka berdua turun dan gw mengambil alih mobil. Maka mereka turun dan berpencar di BEC, sementara gw dan Permadi di mobil dan mencari perkiran. Semua penuh. Amperapun penuh. Maka muter satu kali lagi kita ke R.E. Marthadinata. Pas nyampe depan BEC lagi, Ori udah beres, tapi Sendi belom. Dan yang lebih cerdasnya, Sendi gak bawa hp. Gw akhirnya masuk ke lobby BEC yang buat ngedrop sambil berharap kali aja ada dia. Tapi akhirnya gw mengutus Permadi nyari dia. Dan Ori bilang, naek lagi aja sekali lagi, dan untuk yang kedua kalinya gw naek ke lobby dan menemukan Sendi yang udah 3x ke Ampera nyari kita. Dan sekarang kami kehilangan Permadi. Akhirnya parkiran dapet juga di Ampera dan Permadi masuk sambil dengan mata yang sama ketika pertama kali masuk mobil. Astaga lagii..
Lalu kami pergi ke Gerlong. Dan selama perjalanan itu begitu banyak teriakan2 memekakkan telinga gw karena mereka bertiga gak bisa diam melihat cara gw menyetir, bahkan ketika gw mengabaikan lampu merah dan menyerempet angkutan lain. Hoh.
Sesampainya di Gerlong, gw ke Pak Bohon, dan hanya dalam waktu lima menit urusan dengan dia beres. Ketika pulang dari Pak Bohon, Sendi sudah mengambil alih setir dan kita mulai cari makan. Itu udah jam empatan. Pas belok kanan dari belokan DT, polisi menyuruh kami merapat. Dan selidik punya selidik, ternyata kita sudah melanggar rambu dilarang belok kanan. Habislah. Sendi yang menyetirpun dimintai SIM. Ah, sial. Dengan perdebatan yang meyakinkan, Sendi memenangi harga 30rb saja menyuap itu polisi. Plok plok plok. Seumur-umur gw gak pernah ditilang.
Makan di Ma’ Uneh sampai jam setengah enam kurang sepuluh, pake acara foto-foto pula. Sementara itu gw udah pesen travel jam 17.30. Ori yang menyetirpun mengeluarkan kemampuan tercepatnya dan berusaha menyalip-nyalip tipis demi mengambil koper gw di kosan temen dan mengantar gw ke travel dalam waktu 10 menit. Apa boleh buat, macet Bandung gak pernah ada yang bisa ngalahin. Sedemikian rupa, bahkan itu mobil berubah jadi Tornado yang isinya kita berempat teriak2 gak keruan. Dan sesampainya di travel, gw ditinggal travel. Gw gak sadar kalo gw di sms bahwa mereka udah berangkat. Dan semua cihampelas diputerin demi mendapat travel ke Depok. Nihil. Ujung2nya gw nebeng mobil Sendi dengan dibumbui bapaknya nyasar ke Cikunir dan gw baru saja menjejakkan kaki di rumah jam 11 lebih…
Tuhann..


Bisa berikan gw hikmah apa yang dapat diambil???
Posted by: bilqisaa on: January 1, 2009
Mengingat banyaknya infotainment yang mengangkat masalah resolusi para intertainer, gw jadi pengen me-list beberapa resolusi jangka pendek tahun ini..
[1] IP naik ~ Pikirkan betapa gw masih belom bisa bikin prioritas antara main dan belajar. Kali ini gw harus bisa bagi waktu buat hedon, belajar, dan himpunan (ciyye yang uda dilantik). Dan gw akan coba mengawali semester baru nanti dengan niat tulus untuk memperhatikan dosen di kelas, dibanding mengulang pelajaran di kosan (padahal dua duanya juga gak pernah kelaksana-yang penting niaat).
[2] Bayar utang~ Ehem. Tabu memang menuliskan daftar utang. Gak usah lah gw jabarkan panjang lebar berapa utang gw. Intinya gw akan segera menutup lubang, dan gak menutup kemungkinan gw akan menggali kembali lubang itu. hehhe-maaf teman-that’s what friends are for, huh?
[3] Ke fx dan ex ~ Mewujudkan cita2 aja sbenernya. Cuma pengen nambah pengetahuan. Gak usah berpikir gw mau ngapain di sana, karena gw juga gak tau. Yang jelas gw gak akan pernah nyoba merosot dari lantai tujuh demi apapun.
[4] Ngabisin novel yang terbengkalai ~ Ada beberapa buku yang belom kelar gw baca. Apa aja coba? A Very Yuppy Wedding (ahh, basi deh gw), If You Could See Me, Kisah Yusuf dan Zulaikha, Playing James (innaang), Selebriti, New Moon, Eclipse, Langit Penuh Daya, Bidadari-Bidadari Surga, bla bla bla, Rock and Mineral sekalian deh. Buset, banyak amat? Belom lagi kalo gw keracun beli buku baru. Ck ck ck
[5] Belajar satu bahasa pemrograman ~ Sebagai geophysicist, bokap gw menjejali gw dengan beberapa program yang seharusnya paling gak gw kuasai. Tapi belom kesampean juga. Smoga aja taun ini gw udah bisa, paling gak satu bahasa.
[6] BUT UNDERNEATH IT ALL, I WANNA BE SOMEONE BETTER
Recent Comments